Senin, 03 Maret 2014

Ini semua tentang menghargai. Dan 'hidup' dalam hidup yang kamu miliki


Kalian pernah denger istilah "kamu gak akan tau gimana rasanya bersih kalau belum pernah ngerasain kotor" atau, "kamu gak akan tau gimana rasanya sehat kalau belum pernah sakit" atau juga, "kamu gak akan tau gimana rasanya kenyang kalau belum pernah ngerasain laper"


Kalimat-kalimat ini tidak berarti apa-apa untukku dulu
Hanya sekedar rangkaian huruf yang tidak memiliki makna tertentu
Ya.. hanya sekedar

Sekarang, let me share this
Emang bener,
Kamu gak bakal pernah ngerasa seseneng ini setiap kali ketemu air bersih, kalau kamu belum pernah ngerasain gimana mati-matiannya nahan haus dan satu-satunya sumber air yang kita dapatkan bercampur tanah, berasa dan berbau.
Kamu gak bakal pernah ngerasa sebahagia ini setiap ketemu selimut, kaos kaki bahkan pakaian kering, kalau kamu belum pernah ngerasain gimana rasanya terus menerus diguyur hujan di ketinggian beberapa ribu meter diatas permukaan laut.
Kamu gak bakal pernah ngerasa sebahagia ini setiap ketemu nasi padang, kalau kamu belum pernah menggantungkan perutmu hanya pada alam.
Merasa begitu berterimakasih kepada pencipta kasur, bantal dan guling,
merasa betapa indahnya kamar mandi, betapa hangatnya kamarmu, betapa baiknya atap rumahmu, betapa menakjubkannya apa yang biasa kita sebut sebagai 'listrik'.



Saat akhirnya kamu berada disatu titik.
Titik dimana akhirnya kamu bisa merasa 'cukup'
Bahagia itu sederhana, terkadang kita hanya lupa cara merubah sudut pandang
Juga lupa, bagaimana caranya bersyukur.






NI 12.12.T.09

Senin, 24 Februari 2014

Tribute to Dian

Ini adalah satu dari setumpuk kertas yang berada tepat di penghujung semesta
Setumpuk 'Tugas' yang diberikan oleh kami kepada mereka, calon penerus rumah ini
Satu yang beberapa tingkat lebih baik dari 13 yang lain

Adalah dia, wanita yang dengan kedua kakinya mampu berdiri tegak
Dia yang mampu mengerjakan soal dengan teramat baik
Dia yang tanpa mengeluh berkutat dengan hujan, carrier, tenda, ponco, dan tentu saja, lumpur
Tidak, dia bukan superhero, dia bukan wonderwoman
Dia bukan wanita segar bugar yang terbebas dari segala macam penyakit
Dia bukan wanita dengan fisik yang kuat
Yang mampu mendaki ribuan gunung, yang bisa tidak berkeringat saat membayar seri, yang bisa tidak gemetar berhadapan dengan kami, yang tidak bisa tidak mengeluarkan airmata saat keadaan teman-temannya memburuk
Tapi dia adalah wanita yang amat tangguh
Yang dengan tangan kecilnya berusaha merangkul seluruh keluarga barunya
Yang dengan segala ketidak mampuannya berusaha menjadi mampu
Dengan segala kelemahannya memberikan yang paling baik yang ia bisa beri
Dengan segala kerapuhannya berusaha terlalu keras untuk menjadi kuat
Dengan segala apa yang dia bisa, berjuang hingga batasnya
Ah..tinggal beberapa langkah lagi
Sangat disayangkan, memang
Sangat disayangkan, pasti
Melepas seorang Dian Lestari Hura



Ini adalah tulisannya
Hasil dari rangkaian aksara demi aksara yang dia susun untuk memenuhi tugasnya
Ini adalah tulisannya
Yang saya-sebagai pemateri nilai merupakan yang terbaik diantara yang lainnya
Dan postingan kali ini saya-secara pribadi dedikasikan kepada Dian
Cabul (Calon Nebula) yang paling saya sayangi




18 Jiwa

Gelap...dingin...diam..bertanya..menikmati..

Ini adalah kata-kata yang bisa menggambarkan perasaan saya ketika menuju detik-detik manifestasi pelatihan yang selama ini kami ikuti dalam satu moment cantik  yaitu “survival”. Alasan saya menyebutnya cantik adalah karena memang wilayah yang kami perkosa ketika survival itu cantik. Alami, berkarakter, jujur, dan siap menjadi saksi untuk kami.

Gunung Pati. Hanya itu saja yang kusimpan dari nama wilayah itu. Mengenal pribadinya dengan sedikit nama, lumayan menggelitik. Tetapi lebih baik ketimbang mengenal nama tanpa tahu jiwanya. Nah, berbicara tentang jiwa, ada jiwa yang sekuat tenaga bertahan di pinggiran Gunung itu. Jumlahnya delapan belas jiwa. Menikmati apa yang ada adalah kunci utama untuk berhasil menembus satu moment cantik itu.

Awalnya berjalan menyusuri bangunan kokoh berukuran kira-kira 50 cm. Di kiri ada lubang yang indah, biasa kita sebut jurang. Di kanan ada aliran lembut, biasa kita sebut sungai. Selanjutnya tumpukan kayu dengan penopang besi penuh pengalaman menjadi penolong yang tulus untuk kami bisa selamat menyebrangi aliran di bawahnya.  Naik sedikit, tersandung sedikit, berkeringat sedikit, gemetar sedikit, ketika itu kami berhenti untuk mengatur nafas agar kembali kuat.  Bertemu lagi dengan tumpukan kayu perkasa, pemberian alam bagi kami untuk menyebrangi aliran terakhir. Sampai pada tempat yang ditentukan. Mengikuti aturan main adalah kewajiban. Itu yang kami lakukan ketika sampai di kediaman sementara kami. Dengan sedikit pemanasan, dan wejangan dari panitia terpercaya, kami memulai semuanya.

Bivak, yang pertama sekali dipraktekkan. Hasrat ingin tidur tertahan beberapa waktu sampai bivak nan megah selesai kami persembahkan untuk kelompok kami.
Kita akan memilah-milah bagian yang akan saya ceritakan satu-persatu. Mulai dari makan, bagian hidup paling dasar bagi manusia termasuk kami, karena kami manusia. 
Daun sehat, air yang luar biasa segar, udang yang lincah, garam beryodium yang telah disiapkan, ubi pilihan, permen berwarna coklat yang lumayan kecil, jamu terbaik, hingga buah yang masih tersamar keberadaannya, menjadi pahlawan penyelamat jiwa ketika itu.

Selanjutnya saya akan bercerita tentang kegiatan hebat yang kami lakukan. Dimulai menangkap udang di aliran bersahabat dan penuh batu-batu penjaga. Meskipun tidak ada dalam materi yang kami pelajari selama ini, kami berhasil menjaring beberapa dari mereka. Mencari makan hingga ke bagian paling jauh yang kami bisa. Dan hasilnya, kami membawa cerita saja. Berusaha menyalakan api sebisa mungkin. Ada pula hal-hal mengesankan dari moment cantik itu. Beberapa yaitu, kedinginan bersama keluarga di satu bivak yang lumayan menguras tenaga kami untuk bisa tetap sadar, menyusuri sungai bersama keluarga, push-up di sungai, membentuk lingkaran bersama keluarga lalu mencelupkan kepala ke dalam air, mengabadikan wajah-wajah kami ketika sampai di air terjun “Curug Lawe”, dan itu semua hebat.

Dua hari dua malam, 12-14 Desember, kami menulis cerita di tempat itu. Kami melukis rasa kami di tempat itu. Kami menyatakan cinta kami untuk tempat itu. Kami bersahabat dengan tempat itu. Kami berterimakasih untuk tempat itu. Banyak hal yang kami sadari, Pencipta yang baik hati memberikan segalanya adalah bermanfaat bagi manusia, khususnya delapan belas jiwa tadi. Menjaganya, melestarikannya, adalah kata-kata sederhana tetapi berdampak besar. Dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun, sekuat yang saya bisa, akan melakukan yang terbaik yang saya bisa. Itu adalah tekad setelah kembali dari pinggiran indah itu. Delapan belas jiwa tadi berupaya menjadi saudara terbaik dalam masa kesesakan. Itu bagus untuk perkembangan jiwa-jiwa ini dimasa depan. Belajar untuk tidak egois dan memupuk minat pribadi satu sama lain adalah pelajaran bagus dalam keluarga ini. Mengasihi satu sama lain seperti diri sendiri, dengan tipe kasih yang rela berkorban.  Menghargai waktu dan kesempatan, serta mensyukuri apa yang telah ada.


Oleh: Hura Lestari Dian
Cabul #13












Kuatkan ikatan kalian
Jangan pernah lepas
Apapun yang terjadi
Apapun yang mereka katakan

Mereka selamanya adalah bagian darimu
Dan kamu selamanya bagian dari mereka
Kalian, 18 Jiwa








Testarosa Vanya D'visa
NI 12.12.T.09     
          

Senin, 10 Februari 2014

Undang - Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup untuk Generasi Esok




Sudah bertahun-tahun Indonesia berdiri. Bertahun-tahun pula hukum yang berdasarkan “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” itu di idam-idamkan. Kenyataannya hingga kini tak kunjung dirasakan oleh rakyat negri ini. Dari sejak berdirinya Indonesia, para pendiri bangsa telah memikirkan bagaimana mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Salah satunya adalah pentingnya pemanfaatan sumber daya alam (SDA) secara lestari seperti yang tertuang dalam pasal 33 ayat 3 UUD 1945 “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan utuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Arti dari pasal di atas adalah kekayaan yang ada di bumi Indonesia harus digunakan sebaik-baiknya bukan hanya untuk generasi saat ini tetapi juga untuk anak cucu kita nantinya. Ini adalah tugas berat bagi negara agar dapat membagi kemakmuran yang bersumber dari SDA agar tidak hanya untuk generasi saat ini tetapi juga dapat bertahan hingga generasi selanjutnya.

Dalam menciptakan kemakmuran bersama sudah seharusnya tetap memperhatikan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Seperti yang kita ketahui bahwa hak untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat telah tercantum dalam undang-undang (UU). Itu berarti negara wajib menyediakan lingkungan yang baik dan sehat kepada tiap warga negaranya.

Dengan dikeluarkannya UU no. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menggantikan UU no. 23 tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup seharusnya adalah bentuk langkah serius pemerintah. Serius yang dimaksud adalah menjaga lingkungan hidup dari berbagai ancaman yang terjadi. Harapannya UU tersebut mampu menyelesaikan masalah-masalah lingkungan yang tidak pernah terselesaikan dengan baik. Tetapi pada kenyataannya krisis lingkungan yang terus meningkat serta banyaknya sengketa lingkungan hidup yang berujung bebas menjadi pertanda buruk yang mengancam eksistensi lingkungan dan manusia. Salah satu problem mendasar adalah lemahnya konstitusi hukum yang berdampak pada ketaatan lingkungan yang rendah.

Salah satunya terlihat dalam pasal 26 ayat (2) bahwa ”Pelibatan masyarakat harus dilakukan berdasarkan prinsip pemberian informasi yang transparan dan lengkap serta diberitahukan sebelum kegiatan dilaksanakan”. Dalam pasal ini, tidak diikuti penjelasan seperti apa dan bagaimana bentuk informasi secara lengkap tersebut dan upaya hukum apa yang dapat dilakukan bila hal tersebut tidak dilakukan, begitupula dalam ayat (4) “Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan keberatan terhadap dokumen AMDAL” juga tidak diikuti penjelasan sehingga dapat menimbulkan kerancuan dalam hal yang seperti apa masyarakat menolak dokumen tersebut.

AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan (Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Dalam kebanyakan kasus sengketa lingkungan hidup, yang sering diperdebatkan adalah transparasi pembuatan proses AMDAL. Banyak proses pembuatan AMDAL yang dirasa janggal dan tidak transparan. Padahal AMDAL merupakan suatu dokumen yang sangat penting sebelum perusahaan melakukan kegiatan. Seharusnya penyusunan AMDAL  harus ilmiah dan perlu kajian yang sangat mendalam dan disusun oleh konsultan yang memiliki kredibilitas dan kapasitas yang bagus. Penyusunan AMDAL juga seharusnya melibatkan masyarakat  penerima dampak langsung dan tidak langsung. Pada kenyataannya keterlibatan masyarakat dalam proses pembentukan AMDAL masih sangat minim. Hal itu dikarenakan sosialisasi yang masih kurang dari pemerintah kepada masyarakat. Padahal tingkat pengetahuan masyarakat dalam memahami undang-undang masih sangat rendah.  Apalagi masyarakat desa yang selama ini paling sering terlibat dalam sengketa lingkungan hidup. Hal hal seperti inilah yang seharusnya menjadi perhatian kita bersama untuk mengawal implementasi dari UU No. 32 tahun 2009. Bukan hanya orang-orang yang berkepentingan saja tetapi semua elemen masyarakat mulai dari mahasiswa hingga buruh tani.

Contoh positif di lakukan oleh kelompok mahasiswa pecinta lingkungan Fakultas Hukum UNDIP. Dengan bekal keberanian dan kecintaannya terhadap lingkungan hidup mereka berteriak lantang menolak pembangunan PLTU Batang yang dirasa mengancam kelestarian lingkungan dan hajat hidup orang banyak. Mahasiswa yang dianggap sebagai kaum intelektual seharusnya mampu mengambil peranan penting dalam mengawal jalannya sebuah Undang-Undang, sehingga dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Dengan adanya UUPPLH khususnya pasal 66 akan memberikan rasa aman bagi orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup dari kemungkinan tuntutan pidana dan perdata. Di masa sebelum adanya UU ini banyak kasus dimana perusahaan yang diduga telah mencemari atau merusak lingkungan hidup kemudian menggugat si pelapor atau pemberi informasi dugaan terjadinya masalah-masalah lingkungan dengan tujuan untuk menimbulkan rasa takut dan kerugian materiil terhadap pelapor atau pemberi informasi maupun terhadap pihak-pihak lain di masa datang. Harapannya dengan di muatnya pasal semacam ini akan memberikan keberanian tersendiri bagi masyarakat dan para pejuang lingkungan untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dari ancaman-ancaman yang ada.

Kita rakyat Indonesia sebagai pihak yang paling berwenang,  yang mendambakan peningkatan kesejahteraan hidup, tanpa membebani lingkungan saat ini dan di masa yang akan datang. Namun rakyat bukanlah pemeran utama dalam perebutan SDA dan lingkungan di Indonesia saat ini. Pemerintah, pengusaha, dan negara asing-lah yang saling sikut beradu strategi dalam menentukan nasib kekayaan alam dan lingkungan Indonesia yang notabene adalah hak kita dan generasi mendatang.

Kementerian Lingkungan Hidup sebagai pihak yang berwenang diberikan kewenangan yang sangat luas dalam UU PPLH. Namun demikian, Kementrian yang dipimpin oleh Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, M.B.A. juga diberikan tanggung jawab besar untuk mengatur pelaksanaan ke-13 instrumen dalam UU PPLH yang digunakan untuk mencegah pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup melalui penyusunan Peraturan Pemerintah (PP).

Tugas ini tidak mudah, mengingat bahwa UU PPLH ini disusun atas inisiatif DPR periode yang lalu, bukan atas inisiatif kementrian yang bersangkutan (pemerintah) sendiri, sehingga penafsiran pasal-pasalnya membutuhkan diskusi dengan berbagai pihak yang berkompeten. Kesulitan penuangan pasal-pasalnya dalam bentuk Peraturan Pemerintah  juga terbentur oleh tujuan besar pemerintah saat ini yang menginginkan terciptanya iklim investasi yang ramah. Disamping itu beberapa “anomali” dalam UU tersebut akan mempersulit penyusunan PP yang diharapkan “galak” terhadap para perusak lingkungan hidup.

Pada akhirnya semua tergantung pada keseriusan pemerintah dalam memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya tanpa membebani lingkungan hidup sesuai yang diamanatkan Undang-Undang. Kita sebagai pihak yang “dimanjakan” memiliki kewajiban untuk terus memberikan dukungan yang positif dengan cara memantau bagaimana kekayaan alam kita dikelola dengan baik dan benar untuk kepentingan kita sendiri dan generasi yang akan datang.










Oleh :
NI 10 11 A 03
Wisnu

Jumat, 31 Januari 2014

Susunan Kepengurusan Nebula Indonesia Periode 2013/2014







Pelindung                                                         :           Dekan Fakultas Hukum Undip
                                                                                       Prof. Yos Johan Utama SH, MHUM

Penasihat                                                          :           Dosen Pembimbing Nebula Indonesia
                                                                                       Amiek Soemarmi, S.H., M.Hum.
                                                                                       Untung Sri Hardjanto, S.H., M.H.

Dewan Pengawas                                             :           Yusuf Isyrin Hanggara
                                                                           :           Farrach Erningrum
                                                                           :           Nurul Chasanah

Ketua Umum                                                    :          Aldino Salam

Sekretaris                                                          :          Sekti Wibowo

Bendahara                                                        :           Febrian Satya Adinugraha

Koordinator Divisi Pecinta Alam                   :          Tri Harianto
Staff                                                                   :          Andrian Noor Salim
                                                                           :          Dimas Bayu Suharno
                                                                           :          Raka Sudiasnomo Dewa
                                                                           :          Rohmat Zain

Koordinator Divisi Sosial Masyarakat          :          Ariawan Wisnu Pramana
Staff                                                                   :          Ari Mahardika
                                                                           :          Christoporus Richard
                                                                           :          Richard Purnomo
                                                                           :          Ali Zaenal Abidin

Koordinator Divisi Hubungan Masyarakat  :          Candra Putra Pamungkas
Staff                                                                   :          Tegar Manu Dwiharyanto
                                                                           :          Faiz Dhiyaul Haq Nurmanda
                                                                           :          Testarosa Vanya D'visa

Selasa, 24 September 2013

Mengintip Kehidupan Pengamen Kota Semarang, Suatu Kelompok yang Ter-marjinal[1]-kan

Oleh : Febrian Satya, Tri Haryanto[2]

Semarang Kota Metropolitan!

Jargon tersebut mengandung arti bahwa Kota Semarang mempunyai sarana prasarana yang dapat melayani seluruh aktivitas masyarakat kota dan hinterland-nya dengan aktivitas ekonomi utama berupa perdagangan, jasa, dan industri serta didukung sektor ekonomi lainnya untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Metropolitan juga mengandung makna dapat menjamin kehidupan masyarakatnya yang aman, tentram, lancar, asri, sehat dan berkelanjutan.[3]

Sangatlah wajar apabila dalam benak setiap orang membayangkan Semarang sebagai suatu kota besar, bersih, aman, sejahtera, dan penuh dengan gedung pencakar langit disetiap sudut kotanya, sesuai dengan jargon yang di gadang-gadangkan pemerintah daerah. Namun dalam setiap realitas kehidupan, das Sollen seringkali berbeda dengan das Sein[4]. Dalam hal ini, yang berperan sebagai das Sollen adalah jargon Kota Semarang sebagai kota metropolitan. Sedangkan das Sein-nya adalah fakta bahwa Kota Semarang belum bisa memenuhi salah satu unsur kota metropolitan yaitu mewujudkan masyarakat yang sejahtera.

Bukan suatu omong kosong apabila ada ungkapan “Pemerintah belum bisa mewujudkan masyarakat yang sejahtera”. Sangat jelas dilihat dengan kasat mata, masih banyak masyarakat pra-sejahtera ditengah riuh kehidupan kota. Salah satunya yang sering kita temui adalah pengamen jalanan. Banyaknya pengamen jalanan sebagi bagian dan penduduk kota semakin mempertegas ungkapan pengamen jalanan sebagai “kelompok yang termarjinalkan”. Walaupun jumlah mereka tidak sebading dengan penduduk lain yang rata-rata mempunyai status sejahtera, namun keberadaan pengamen jalanan tidak boleh luput dan perhatian kita.

Fenomena pengamen jalanan semakin merebak dan kini semakin banyak cara dan gaya mereka yang khas saat mengamen. Diantaranya ada pengamen anak muda yang berpenampilan nyentrik menggunakan pakaian hitam, bertato, rambut jabrik, dan menindik anggota tubuhnya agar terlihat menarik, ibu-ibu yang menggendong anak — walaupun tidak jelas anak kandung atau hanya anak sewaan - agar terlihat memelas dan dikasihani hingga pengamen Jathilan[5] yang melakukan aksinya saat lampu merah jalan raya menyala.

Perbedaan cara yang mereka pakai untuk mengamen itu sendiri ternyata memiliki alasan, tujuan, dan harapan yang berbeda. “Saya dulu pedagang, tapi gak pernah dapat untung Mas, akhirnya pindah jadi pemulung, dan sekarang jadi penyanyi” ungkap Sri, pengamen karaoke (red: pengamen yang menggunakan tape recorder) yang memulai karir mengamennya dengan menelusuri satu gerbong kereta ke gerbong kereta lainnya. Sri yang berasal dari Jawa Timur, mulai ber-migrasi ke Purwodadi untuk mengikuti suaminya. Sampai pada akhirnya Ia ditinggalkan oleh sang suami dengan seorang anak laki-laki yang kala itu masih berumur lima tahun.

Saat ini Sri tinggal di sebuah kamar kos yang terletak di daerah Pasar Johar. Ia memulai pekerjaannya mulai pagi-pagi hinga sore hari dengan rute Pasar Johar sampai ke Jalan Pahlawan. Sri yang merupakan single parent ini mempunyai tanggungjawab penuh atas kehidupannya anaknya. “Saya ingin punya rumah sendiri Mas. Kalau sudah punya rumah, saya mau dagang saja untuk menafkahi anak saya” ujar Sri.

Lain Sri, lain halnya dengan Felix, seorang pengamen dengan usia sangat muda yang tergabung dengan kelompok jathilan. Baginya, mengamen adalah kegiatan tambahan yang Ia lakukan untuk mencari uang tambahan dikarenakan uang yang Ia dapat dan orang tuanya dirasa belum cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Selain itu, banyaknya waktu luang di luar jam kuliah juga menjadi alasan mengapa remaja ini ikut kelompok Jathilan untuk mengamen. “Saya ngamen buat cari uang jajan tambahan, juga ngisi waktu luang kalau lagi gak ada kuliah” Ucap mahasiswa Universitas Semarang Jurusan Ilmu Teknologi ini.

Kelompok Seni Jathilan pada dasarnya biasa mengisi acara seperti pesta pernikahan, Khitanan, atau perayaan lainnya. Namun karena minimnya tawaran untuk mengisi di acara-acara tersebut, akhirnya banyak Kelompok Seni Jathilan yang ‘turun’ ke jalan untuk mengamen dengan metode Jathilan yang akhirnya menyebabkan mereka akrab disebut sebagai ‘Pengamen Jathilan’.

Kelompok Seni Jathilan yang diikuti Felix ini berasal dari kota Yogyakarta dan mulai turun ke jalanan pada tahun 2008. Kendala terbesar yang meraka hadapi sebagai Pengamen Jathilan di kota yang akrab disebut dengan kota pelajar itu adalah banyaknya penertiban dan Satpol PP yang seringkali menyita barang-barang mereka dan tidak dikembalikan. Karena alasan itulah akhirnya kelompok Jathilan ini hijrah ke Semarang yang mereka anggap penertibannya tidak sebanyak di Jogja.

Mayoritas alasan mereka yang memutuskan untuk menjadi pengamen adalah karena masalah ekonomi. Minimnya lapangan pekerjaan dan rendahnya keahilan meraka menjadi alasan utama para pengamen itu turun sebagai penyanyi jalan yang menghibur para pengendara kendaraan bermotor saat lampu merah. Sebagian besar dari pengamen tersebut merupakan orang-orang yang hilang arah dalam menentukan tujuan hidupnya. Tujuan awal kedatangan mereka ke kota bukan lah untuk menjadi pengamen, namun adanya anggapan bahwa kota besar selalu bisa memuaskan kehidupan manusia menjadikan mereka berbondong-bondong merantau dari tempat asalnya menuju kota besar dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang baik dan memenuhi kebutuhan khususnya kebutuhan ekonomi. Namun realita yang terjadi sangat jauh berbeda dengan harapan, mereka yang tidak mempunyai keahlian dan minimnya lapangan pekerjaan membuat mereka putus asa dan memilih menjadi pengamen jalanan sebagai mata pencaharian.

Sudah menjadi rahasia publik apabila masih banyak tugas dan tanggungjawab pemerintah yang belum dijalankan dengan baik, khususnya dalam hal melindungi warga Negara yang mengalami kesulitan ekonomi. Walaupun dalam Pasal 34 ayat (1) Undang — Undang Dasar 1945 jelas tetulis bahwa “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh NEGARA” yang dalam konteks ini, Negara adalah Pemerintah yang menjalankan pemerintahan di Negara Indonesia. Maka dan itu sudah sangat jelas UUD 1945 memberikan amanah kepada pemerintah untuk melindungi dan memelihara fakir miskin.

Tidak akan menjadi selesai suatu permasalahan di Negeri ini apabila masyarakat hanya bisa mengeluh dan mengkritik pemerintah saja, perlu adanya campur tangan masyarakat untuk membantu menyelesaikannya. Fenomena pengamen jalanan bukan hanya permasalahan ekonomi saja, tapi juga termasuk masalah sosial dan keamanan. Dengan banyaknya pengamen, maka akan timbul banyak permasalahan lain seperti maraknya tindak pidana berkedok pengamen, koordinator gelap yang mengkoordinir pengamen jalanan, atau permasalahan pelecehan seksual yang dialami pengamen yang hidup dijalanan.

Dalam hal ini, masyarakat selain mengkritik pemerintah juga harus memberikan solusi. Pemerintah masih mempunyai tugas untuk membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya untuk masyarakat agar tingkat pengangguran dan pengamen jalanan bisa menurun. Bukan hanya membuka lapangan pekerjaan saja, pemerintah juga bisa memberikan pelatihan untuk masyarakat yang tidak mempunyai keahlian apa — apa agar bisa bersaing di dunia kerja. Masyarakat sebagai manusia dengan jumlah tenbanyak juga mempunyai tanggungjawab moral untuk membantu sesama manusia. Bantuan yang dimaksud bukan bantuan berupa uang tunai, namun bantuan berupa membuka lapangan pekerjaan dengan ber-wirausaha atau membuat pelatihan- pelatihan kecil, minimal untuk masyarakat sekitar lingkungan tempat tinggal. Dengan demikian, adanya permasalahan sosial ini bisa diatasi bersama-sama secara seimbang antara pemerintah dengan masyarakat.




Edit by             : Farrach E[6]
Upload by        : Wisnu[7]
Publish by        : TM Dwiharyanto[8]





[1] Marginal adaah suatu kelompok yang jumlahnya sangat kecil atau bisa juga diartikan sebagai kelompok prasejahtera. Marjinal juga identik dengan masyarakat kecil atau kaum yang terpinggirkan, http://jamal-merdeka.biogspot.com/2012/10/apa-itu-kaum-marjinal-marginal.html , diunduh pada tanggal 15 September 2013 pukul 01.30
[2] Mahasiswa FH Undip dan Pengurus Aktif Nebula Indonesia (Organisasi Pecinta Lingkungan Fakultas Hukum Undip) 2013
[3] http://fdkotasemarang.org/article/37460/visi-kota-semarang-tahun-2025-semarang-kota-metropolitan-yang-religius-tertib-dan-berbudaya.html, diunduh pada tanggal 15 September pukul 01.46
[4] das Sollen berasal dari bahasa Jerman yang berarti “hal yang dicita-citakan” . das Sein adalah “keadaan yang sebenarnya pada waktu sekarang”. Prof.Dr.Sudikno Mertokusumo,SH, Mengenal HukumSuatu Pengantar(2008), hal. 15
[5] Jathilan adalah sebuah tarian drama yang menceritakan tentang pertempuran dua kelompok prajurit berkuda dan bersenjatakan pedang. Tarian ini biasanya mengangkat cerita-cerita babad tanah Jawa seperti, cerita Panji Ario Penangsang dan cerita lain era kerajaan Majapahit. Dalam penampilanya sang penari menggunakan sebuah kuda tiruan yang biasanya terbuat dari anyaman bambu dan disebut Kuda Kepang. Bak seorang kesatria yang gagah berani, para penari beraksi sambil menunggangi kuda tiruan tersebut dengan diiringi gamelan jawa. http://kridhoturonggoseto. blogspot.com/2013/04/arti-jathilan.html, diunduh pada tanggal 15 September 2013 pukul 02.02
[6] Mahasiswa Jurusan Hukum Internasional Fakultas Hukum Undip, Pengurus aktif Nebula Indonesia (Organisasi   Pecinta Lingkunan FH Undip) 2013, Pengurus Aktif Gema Keadilan (Lembaga Pers Mahasiswa FH Undip) 2013.

[7] Mahasiswa Jurusan Hukum Internasional Fakultas Hukum Undip, Pengurus aktif Nebula Indonesia (Organisasi   Pecinta Lingkunan FH Undip) 2013.

[8] Mahasiswa Fakultas Hukum Undip, Pengurus aktif Nebula Indonesia (Organisasi   Pecinta Lingkunan FH Undip) 2013, Pengurus aktif Laskar Nusakambangan.